MINAHASA,- WARTAKAWANUA.my.id,- Verifikasi lapangan terkait usulan Gelar Pahlawan Nasional kepada Kiay Modjo berlangsung hari ini, Senin (26/10-2026).
Bertempat dimasjid Agung Al,falah Kiay Modjo Kelurahan Kampung Jawa Tondano, Verifikasi lapangan dilaksanakan oleh Wakil Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementrian Sosial, Bondan Kanumoyoso.

verifikasi bertujuan mencocokkan data dalam naskah akademik yang disusun Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Dinas Sosial Provinsi Sulut dengan kondisi faktual di lapangan.
” Apa yang sudah disampaikan tim peneliti dan pengkaji gelar daerah Dinsos Sulut, bagaimana data-data yang ada di dalam naskah akademik disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan juga untuk melihat kondisi masyarakat setempat. Apakah memang pengusulan ini berasal dari bawah dan didukung penuh oleh masyarakat dan juga pemerintah daerah,” ujar Bondan saat diwawancarai sejumlah Wartawan.
Mengenal Kyai Mojo, ulama kepercayaan dan Guru Spritual pangeran diponegoro di Perang Jawa.

Diketahui Kiay Modjo adalah Salah satu ulama yang cukup terkenal di wilayah Jogja dan Jawa, Berikut penjelasan singkat tentang biografi Kyai Mojo.
Kyai Mojo dikenal sebagai seorang ahli strategi. Dengan kemampuannya tersebut, Kyai Mojo kemudian dipercaya oleh Pangeran Diponegoro untuk memperkuat pasukannya dalam Perang Jawa.
Lalu bagaimana sepak-terjang kehidupan Kyai Mojo hingga akhirnya menjadi tokoh kepercayaan Pangeran Diponegoro? Berikut informasi yang dihimpun Wartakawanua.my.id.
Biografi Kyai Mojo
Dikutip dari buku Konflik dan Taktik Perang Jawa 1823-2839 karya Muhammad Muhibbuddin, Muslim Mochammad Khalifah atau yang biasa dikenal Kyai Mojo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1792.
Sosok yang kerap disebut sebagai Kyai Mojo ini merupakan seorang ulama yang dikenal sebagai orang kepercayaan Pangeran Diponegoro, sekaligus menjadi panglima selama Perang Jawa berlangsung.
Kyai Mojo lahir dari pasangan Iman Abdul Ngarip dan R.A Mursilah yang merupakan keturunan bangsawan. Ayah Kyai Mojo merupakan keturunan Keraton Jogja dan ibunya saudara Sultan Hamengkuwana III. Namun Kyai Mojo sejak lahir tidak pernah berada di lingkungan keraton.
Kyai Mojo dan Pangeran Diponegoro dalam silsilah keluarga memiliki ikatan kekerabatan yang merupakan saudara sepupu. Namun persaudaraan mereka semakin erat saat Kyai Mojo menikahi janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman Diponegoro. Sehingga setelah itu Kyai Mojo dipanggil dengan sapaan paman oleh Pangeran Diponegoro.
Ketua tim verifikasi menegaskan, verifikasi lapangan penting untuk memastikan kesesuaian akademik dan fakta lapangan.
“Selain dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah, verifikasi lapangan ini penting dilakukan. Apa yang disampaikan dalam naskah akademik sesuai dan cocok yang ada di lapangan dan sebagian besar sudah terverifikasi,” jelas Bondan.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Kampung Jawa Tondano, Alfian Kiay Demak. Ia menilai Kiai Modjo sangat layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.
“Kyai Modjo sudah sangat pantas menjadi Pahlawan Nasional. Jasa beliau bukan hanya dalam perlawanan terhadap kolonial, tapi juga memberikan banyak kontribusi untuk masyarakat Tondano, mulai dari pengetahuan agama, pertanian, strategi perang, hingga nilai toleransi dan moderasi beragama yang sampai hari ini masih kami jaga di Kampung Jawa,” ujar Alfian.
(Udin)

